Florida - Calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai
Republik, Donald Trump, sengaja memperkeruh keadaan saat marak tudingan
Rusia meretas dan mempengaruhi pilpres AS. Terang-terangan, Trump
menantang Rusia untuk meretas email capres Partai Demokrat, Hillary
Clinton.
Dalam konferensi pers terbaru, miliarder asal New York
itu melontarkan serangan terhadap rivalnya dari Partai Demokrat,
Hillary. Trump juga menjanjikan masa keemasan hubungan AS-Rusia di bawah
kepemimpinannya sebagai Presiden AS kelak.
Menyerang Hillary, seperti dilansir AFP,
Kamis (28/7/2016), Trump membahas kembali skandal email yang melanda
Hillary saat dirinya menjabat Menteri Luar Negeri AS. Trump juga
menyinggung lebih dari 30 ribu email Hillary yang dihapus karena
dianggap personal dan tidak berkaitan dengan tugasnya. Hillary dianggap
ceroboh karena menggunakan sistem email pribadi saat menjabat Menlu AS
dan berpotensi mengungkap informasi rahasia negara. .
"Rusia,
jika kalian mendengarkan, saya harap kalian mampu menemukan 30 ribu
email yang hilang. Saya pikir kalian mungkin akan diberi penghargaan
besar oleh media kita," ucap Trump dalam konferensi pers di Florida.
Pernyataan Trump itu membuat kubu Partai Republik yang menaunginya
mengernyitkan dahi. Bahkan calon wakil presiden yang mendampingi Trump
buru-buru mengklarifikasi pernyataan Trump. Sedangkan Trump sendiri
kemudian berupaya menarik kembali komentarnya yang sembrono.
Trump
menegaskan, Rusia mungkin tidak mendalangi peretasan email Komisi
Nasional Partai Republik (DNC) yang terjadi baru-baru ini. Kubu Demokrat
dan pemerintah AS menduga Rusia di balik peretasan itu. "Saya tidak ada
kaitannya dengan Rusia," tegas Trump kemudian.
Gubernur Indiana,
Mike Pence, yang mendampingi Trump sebagai cawapres langsung berusaha
mengklarifikasi pernyataan Trump dan berusaha mengembalikan fokus
kampanye pada menyerang capres Partai Demokrat, Hillary.
"Jika
memang Rusia yang mendalanginya (peretasan) dan mereka mencampuri pemilu
kita, saya bisa memastikan kepada Anda bahwa kedua partai (Partai
Republik dan Partai Demokrat) dan pemerintah AS akan memastikan adanya
konsekuensi serius," tegas Pence.
"Rakyat Amerika sekarang memiliki bukti nyata dan lebih lanjut bahwa
korupsi marak di sekitar Hillary Clinton. Itu seharusnya
mendiskualifikasinya (Hillary) dari jabatannya," imbuhnya.
Di
sisi lain, tantangan Trump untuk peretas Rusia itu memicu kemarahan dari
tim kampanye Hillary. Mereka menuding Trump sengaja mendorong spionase
asing di wilayah AS.
"Ini pertama kalinya ketika seorang
kandidat utama presiden secara aktif mendorong kekuatan asing untuk
melakukan spionase terhadap rival politiknya. Hal ini beranjak dari
persoalan penasaran belaka, dan persoalan politik, menjadi isu keamanan
nasional," tegas penasihat senior Hillary, Jake Sullivan.
Donald Trump Pancing Rusia Agar Retas Email Hillary Clinton
Reviewed by Admin
on
1:22:00 PM
Rating: 5